Normal People: My No. 1 Favorite Horror Series.

Kadang kita ketemu satu cerita fiksi yang bikin kita terdiam lama setelah nonton. Bukan karena ending-nya mengejutkan, tapi karena yang kita tonton terlalu familiar. Normal People (2020) bukan cuma serial drama romantis biasa. Film ini bercerita tentang cinta yang nggak bisa dijaga, luka yang nggak pernah sembuh, dan dua orang yang saling menyakiti padahal sebenarnya cuma butuh dimengerti.


Buat yang belum nonton: Normal People bukan series dengan plot twist. Ceritanya pelan, banyak adegan diam, banyak tatapan yang nggak diucapkan dengan kata, Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ini bukan cerita tentang “akhir yang bahagia”. Ini cerita tentang dua manusia yang tumbuh, tersesat, dan mencoba saling mencintai dengan cara yang mereka tahu—meskipun sering kali, cara itu salah.


Series ini ngikutin perjalanan dua orang—Connell Waldron dan Marianne Sheridan—dari SMA sampai kuliah di Dublin. Mereka beda dunia: Connell anak populer dari keluarga biasa, Marianne gadis “aneh” dari keluarga kaya yang dingin. Hubungan mereka rumit dari awal: penuh rahasia, gengsi, rasa takut, tapi juga koneksi emosional yang dalam banget.

Setelah masuk universitas, semuanya mulai berubah. Dinamika kekuasaan dan rasa nyaman mereka bertukar posisi. Mereka saling mendekat dan menjauh, berkali-kali, dengan cara yang nyakitin tapi juga sangat manusiawi.

Connell—penuh overthinking, takut ngomong jujur karena takut kehilangan orang. Aku nahan semua di dalam, berharap orang lain bisa ngerti tanpa aku harus ngomong. Tapi justru itu yang bikin aku kehilangan.

Dan Marianne—ngerasa nyaman disakiti karena merasa nggak layak buat dicintai dengan sehat. Ada bagian dalam diriku yang percaya bahwa cinta harus menyakitkan, karena itu yang aku tahu sejak kecil. Nggak semua orang ngerti kenapa seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang salah, tapi Normal People nunjukin itu tanpa harus ngehakimi.

Mereka nggak sempurna. Mereka bikin kesalahan yang sama berkali-kali. Tapi justru itu yang bikin kisah mereka begitu nyata—dan jujur, sakit.


Normal People bukan cerita tentang “siapa akhirnya sama siapa.” Ini tentang dua jiwa yang tumbuh bersama, tapi tidak pernah sepenuhnya sembuh. Ini tentang betapa sulitnya menjadi orang dewasa ketika luka masa kecil belum benar-benar kamu urai. Tentang mencintai seseorang, tapi belum mencintai diri sendiri. Setelah nonton ini, aku sadar: mencintai seseorang nggak cukup. Kamu juga harus tahu gimana cara mencintainya, dan yang paling penting, kamu juga harus nyembuhin diri sendiri dulu.

Selain itu, series ini ngajarin bahwa luka yang nggak disembuhkan bakal nyeret orang lain ikut luka juga. Dan kadang, orang yang kita cintai… bukan orang yang harus kita miliki selamanya. Normal People bikin aku berdamai dengan masa lalu—karena aku akhirnya bisa lihat bahwa aku nggak sendirian. Dan kadang, cerita fiksi bisa jadi penyelamat kecil dari realita yang berat. Dan buatku, ini bukan drama fiksi.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello. Rianindaa here. Jakarta, 14 Mei 1994. hobi menulis, design dan travelling. welcome to my world and enjoy the page!

0 comments:

Post a Comment